Dies Natalis HMI ke 61
Pada hari ini, 5 Februari 2008, HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) genap berusia 61 tahun, sejak didirikan pada tahun 1947. Sebuah usia yang tidak bisa dibilang muda lagi. Namun juga tidak tepat jika dibilang tua seperti kata Akbar Tanjung. Mungkin kata yang lebih tepat untuk menggambarkan usia 61 tahun tsb adalah HMI sekarang telah memasuki fase dewasa dari sebuah organisasi.
Pada fase inilah HMI harus lebih siap dalam menghadapi tantangan dalam peran sertanya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sejarah bercerita, pada perayaan Dies Natalis pertama HMI di Jogjakarta tahun 1948. Panglima besar Jenderal Soedirman pernah bertutur bahwa HMI bukan semata-mata Himpunan Mahasiswa Islam tetapi Harapan Masyarakat Indonesia. Adalah baik, bagi kader HMI untuk menjadikan keyakinan Pak Dirman ini sebagai inspirasi dan motivasi dalam berkarya.
Dengan dilatar belakangi semangat untuk memajukan syiar Islam dan bangsa Indonesia, kelahiran HMI memang tidak bisa dipelaskan dari nuansa kebangsaan selain ke-Islam-an tentunya. Mengutip pernyataan mantan Ketua Umum PB HMI, Akbar Tanjung, ada tiga garis penting yang membingkai karakter ke-HMI-an. Yakni KeIslaman, KeIndonesiaan dan KeIntelektualan. Resultante ketiganya akan membentuk sosok-sosok insan cita. Yakni kombinasi ideal dari insan akademis, insan pencipta dan insan pengabdi.
Telah banyak fakta sejarah yang menjadi saksi peran serta HMI dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Antara lain: pada periode 1965-1966 HMI memelopori gerakan menentang G 30 S yang mencoba memberontak terhadap Pancasila. HMI juga ikut menggulirkan Tritura (Tiga Tuntutan Rakyat) yang meliputi turunkan harga barang, bubarkan PKI, dan perombakan kabinet. Lalu pada tahun 1972 HMI juga turut membidani lahirnya kelompok Cipayun. Kemudian disusul pada tahun 1973 yang ditandai lahirnya KNPI pada tanggal 23 Juli yang juga tidak bisa dilepaskan dari peran kader-kader HMI.
Sebagai organisasi kemahasiswaan yang sudah matang dari segi usia, HMI harus bisa menjadi contoh bagi organisasi kemahasiswaan yang lain. Terutama yang berkaitan dengan hal-hal yang bersifat prinsip dan sensitif seperti masalah idealisme dan independensi. HMI tidak boleh terjebak dalam politik praktis yang hanya berorientasi pada kekuasaan dan kepentingan jangka pendek semata.
Dengan semakin beratnya tantangan dan persaingan yang ada, baik didalam dunia kampus maupun dalam kehidupan sosial masyarakat. HMI harus mampu menyiapkan kader-kader nya untuk menghadapi itu semua. Dengan cara peningkatan kualitas SDM melalui sebuah proses kaderisasi yang berkualitas dan berkesinambungan. Pada akhirnya, kader-kader HMI harus terus mampu bersaing secara sehat, terbuka dan elegan.
Selamat Dies Natalis ke 61.
Semoga HMI bisa membawa diri di setiap langkahnya.
YAKUSA !!! (Yakin Usaha Sampai).